Website kampus

Website STIE TDN

Overhaul situs kampus dengan tema WordPress kustom 19 template halaman, form kuisioner yang datanya langsung masuk Google Sheets, dan perbaikan email domain yang sebelumnya tidak bisa menerima pesan.

  • WordPress
  • PHP
  • Tema kustom
  • DNS / email
  • Beranda situs STIE TDN: slider promo pendaftaran dan logo kampus di bilah atas.
    Beranda — slider promo pendaftaran, logo kampus, dan tombol Daftar.
  • Bagian bawah beranda STIE TDN: kartu dua program studi dan penjelasan Kelas Karyawan.
    Bagian bawah beranda — kartu dua program studi dan Kelas Karyawan.
  • Halaman Program Studi Akuntansi STIE TDN dengan breadcrumb dan badge akreditasi B.
    Halaman Program Studi Akuntansi — satu dari 19 template halaman tema.

Gambar 1 dari 3

Masalah

Situs kampus memakai WordPress dan sudah lama menyandarkan tampilannya pada tema pihak ketiga. Struktur kontennya khas perguruan tinggi — profil, visi misi, struktur organisasi, dua program studi, dua lembaga, dokumen akademik, fasilitas, dan portal akademik — sehingga setiap penambahan halaman berarti menambal template yang bukan dirancang untuk kebutuhan itu. Akibatnya tampilan antarhalaman tidak konsisten, dan halaman baru sulit dibuat tanpa menyentuh kode.

Ada masalah kedua yang lebih mendesak: email domain kampus tidak bisa menerima pesan. Record MX mengarah ke layanan yang tidak memiliki mailbox aktif, sehingga pengirim dari luar mendapat penolakan — padahal alamat info@stietdn.ac.id dipakai di seluruh situs.

Peran & batasan

Pengembangan tema, penanganan formulir, sekaligus penelusuran masalah domain. Batasannya jelas: hanya ada akses cPanel dan panel hosting umum, tanpa akses server penuh, tanpa Composer,dan tanpa ruang untuk memasang library berat. Apa pun yang dibangun harus berjalan di akun shared hosting yang sudah ada.

Solusi

  • Tema kustom tdn-kampus v2 ("TDN Kampus 2026") dengan bahasa desain sendiri: header glass yang lengket, hero full-bleed, gradient mesh, kartu 3D tilt, dan reveal-on-scroll. Tema lama tidak diubah sama sekali sehingga bisa diaktifkan kembali kapan saja sebagai cadangan.
  • 19 template halaman untuk kebutuhan yang berulang — Profil, Visi Misi, Struktur Organisasi, Fasilitas, Dokumen Akademik, dua Program Studi, LPPM, LPMI, ECDC, KIP Kuliah, Pengabdian, hingga Portal Akademik — masing-masing punya field sendiri lewat meta box, bukan satu editor bebas untuk semua.
  • Formulir yang datanya tidak menumpuk di WordPress: Kuisioner Kinerja Dosen (27 pertanyaan) dan Kepuasan Tendik mengirim jawaban ke Google Sheets lewat Google Apps Script, jadi tetap jalan tanpa library Google API Client yang butuh Composer di shared hosting.
  • Pengaduan PPKPT disimpan sebagai custom post type privat — tanpa URL publik, tidak bisa dijangkau pencarian atau REST API — dan aksesnya dibatasi hanya untuk administrator, dengan notifikasi email lengkap ke Satgas.
  • Perbaikan email: MX diarahkan ke server mailbox yang benar, lalu SPF, DKIM, dan DMARC dilengkapi supaya email keluar tidak berakhir di spam.

Tantangan & keputusan

Slider beranda pada tema lama tidak bisa dijeda dan tidak ramah keyboard. Untuk tema baru, kontrol pause/play, navigasi keyboard, dan penonaktifan otomatis saat prefers-reduced-motion dibuat sebagai bagian dari komponen slider — bukan tambahan setelah jadi.

Kontras juga diperbaiki menyeluruh: teks kecil yang tadinya emas terang dibuat lebih gelap agar lolos WCAG AA, :focus-visible dipasang global, dan skip-link ditambahkan. Portal akademik sendiri tetap dilayani sistem SIMAKAD di subdomain terpisah; tema ini hanya menyediakan pintu masuknya, dan kredensial mahasiswa tidak pernah lewat WordPress.

Hasil

Situs kampus berjalan dengan tema sendiri, dan penambahan halaman sekarang mengikuti template yang sudah ada. Email domain kembali normal dua arah: pesan dari luar masuk ke mailbox kampus, dan email keluar diterima di Gmail tanpa masuk spam. Untuk kampus, ini bukan sekadar soal tampilan — pendaftaran dan komunikasi akademik bergantung pada alamat yang berfungsi.

Pelajaran

Di lingkungan nyata, batasan hosting sering menentukan arsitektur. Keputusan memakai Google Apps Script sebagai perantara data lahir dari ketiadaan Composer, bukan dari preferensi — dan justru itu yang membuat form tetap jalan sampai sekarang. Sama halnya dengan email: masalah yang tampak "situs" ternyata murni DNS.

← Semua proyek Hubungi Saya